Sekedar-Tulisan

MEWASPADAI AGENDA DI BALIK ISU PLURALISME

Posted by: abuubaidah on: Januari 4, 2008

Menjelang tutup tahun 2007 yang baru saja kita tinggalkan, setidaknya ada 2 peristiwa keagamaan yang cukup menarik untuk dicermati. Pertama: Mencuatnya kembali kasus Ahmadiyah, khususnya setelah kasus penyerangan oleh sekelompok orang terhadap para pengikut aliran Ahmadiyah di Desa Manis Lor, Jalaksana, Kabupaten Kuningan, 18 Desember 2007. Peristiwa ini sempat mengundang kecaman dari Wapres Yusuf Kalla. Komnas HAM pun langsung turun tangan setelah kasusnya diangkat secara besar-besaran oleh media massa nasional. Sejumlah aktivis HAM dan kalangan Liberal kemudian menuding bahwa penyebab munculnya sejumlah aksi kekerasan atas nama agama adalah MUI. Intinya, mereka menyalahkan fatwa MUI yang telah menetapkan Ahmadiyah sebagai kelompok yang menyimpang dari ajaran Islam. Padahal pelaku penyerangan tersebut sampai saat ini masih misterius. Pimpinan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Barat pun menilai mereka tidak jantan alias pengecut, sebab aksinya bersembunyi di balik topeng ala ninja.

 

        “Itu tindakan tidak sportif dan sangat berbau provokasi. Aksi anarkis ini seperti ada yang merangkaikannya untuk membuat kekacauan. Saya berharap aparat kepolisian bersama pihak terkait lebih serius menanganinya, untuk menghindari konflik yang lebih jauh,” ujar Ketua MUI Jabar KH Hafidz Usman. (Republika.co.id, 26/12/2008).

 

Namun, seolah mendukung para aktivis HAM dan kalangan Liberal, Badan Koordinasi Pengawas Aliran dan Kepercayaan (Bakorpakem) diberitakan tidak akan melibatkan MUI dalam rapat penentuan nasib Ahmadiyah. Alasannya, agar rapat itu obyektif. (Republika, 31/122007). Ini sama saja dengan rapat untuk menentukan apakah seseorang suspect flu burung tanpa mengundang dokter yang ahli mengenai penyakit itu.

 

Kedua: peristiwa Perayaan Natal Bersama (PNB). Terkait dengan PNB ini, hampir semua kementerian/departemen Pemerintah serentak mengadakan Perayaan Natal Bersama (PNB). Menariknya, sebagian besar undangan, mulai dari menteri hingga staf, adalah Muslim. Di suatu lembaga, di jajaran pimpinan hanya dua dari 17 pejabat Eselon-1 dan Eselon-2 yang non-Muslim. Sisanya yang 15 orang adalah Muslim, bahkan bergelar haji. Namun, lembaga itu malah menjadi tuan rumah PNB untuk seluruh kementerian. Ini baru terjadi kali ini. Sebelumnya, selama 32 tahun masa Orde Baru dan 10 tahun masa Reformasi, yang seperti ini belum pernah terjadi.

 

Atas Nama Pluralisme

 

Jika dicermati, mencuatnya kembali kasus Ahmadiyah yang kemudian terkesan menyudutkan umat Islam dan MUI maupun munculnya fenomena Perayaan Natal Bersama (PNB) sama-sama dilandasi oleh paham dan semangat Pluralisme. Pluralisme—yang berarti paham mengenai keniscayaan kemajemukan agama dan kepercayaan—adalah ide turunan dari demokrasi yang memang menjamin adanya kebebasan beragama. Namun, kebebasan beragama ini juga pada faktanya mentoleransi kebebasan untuk menodai agama. Buktinya, Ahmadiyah yang telah lama difatwakan sesat oleh MUI karena dianggap menodai Islam—di antaranya karena mengklaim pendiri Ahmadiyah, Mirza Ghulam Ahmad, sebagai nabi—tetap dibela. Sebaliknya, fatwa MUI tersebut justru dikecam oleh kalangan aktivis HAM dan kaum Liberal; sebuah sikap yang tentu saja bertentangan dengan ajaran demokrasi sendiri, yang katanya menjamin kebebasan berpendapat. Kecaman kalangan Liberal dan para aktivis HAM terhadap Majelis Ulama Indonesia (MUI) bahkan melahirkan opini agar MUI dibubarkan. Bukan kali ini saja kalangan Liberal mengecam MUI. Pada tahun 2005 lalu, misalnya, mereka juga menggugat MUI sesaat setelah MUI mengeluarkan fatwa tentang sesatnya paham sekularisme, liberalisme dan pluralisme.

 

Buruknya Paham Pluralisme

 

Pluralisme (agama) sebenarnya mengandung 2 (dua) hal sekaligus: (1) Kenyataan bahwa di sana ada keanekaragaman agama; (2) Pandangan tertentu dalam menyikapi realitas keanekaragaman agama yang ada. Kesimpulan ini dapat ditelaah, misalnya, dalam penjelasan Josh McDowell mengenai definisi pluralisme. Menurut McDowell, ada dua macam pluralisme: (1) Pluralisme tradisional. Pluralisme ini didefinisikan sebagai “menghormati keimanan dan praktik ibadah pihak lain tanpa ikut serta bersama mereka”. (2) Pluralisme baru yang menyatakan bahwa “setiap keimanan, nilai, gaya hidup dan klaim kebenaran dari setiap individu adalah sama”. (http://www.ananswer.org/mac/answeringpluralism.html, diakses 11/6/2005).

 

Dari pengertian pluralisme di atas, jelas bahwa yang dia sampaikan bukan sekadar fakta, tetapi sudah menyangkut opini. Ini terlihat dari pandangan bahwa semua keimanan, nilai, gaya hidup dan klaim kebenaran, adalah sama/setara.

Benar, bahwa ada keanekaragaman keyakinan, kepercayaan atau agama. Ini adalah kenyataan dan merupakan sunatullah. Inilah yang disebut dengan pluralitas. Namun, jika kemudian dikembangkan paham/opini bahwa semua agama benar, tidak boleh ada monopoli klaim kebenaran, tidak mengapa merayakan Perayaan Natal Bersama atas nama toleransi, dll; semua itu jelas sebuah penyesatan. Inilah paham pluralisme yang memang sengaja didesakkan ke dalam tubuh umat Islam untuk melemahkan akidah mereka.

 

Karena itu, paham pluralisme agama, di samping patut dikritisi, juga harus diwaspadai. Alasannya karena: Pertama, secara normatif pluralisme agama bertentangan secara total dengan akidah islamiyah. Sebab, pluralisme agama menyatakan bahwa semua agama adalah benar: Islam benar, Kristen benar, Yahudi benar, Ahmadiyah benar dan semua agama/keyakinan apa pun sama-sama benar. Sebaliknya, menurut Islam, hanya Islam yang benar (QS Ali-Imran [3]: 19); agama selain Islam adalah tidak benar dan tidak diterima oleh Allah SWT (QS Ali-Imran [3]: 85).

 

Kedua, secara historis paham pluralisme bukanlah dari umat Islam, namun dari orang-orang Barat sekular, yang mengalami trauma konflik dan perang antara Katolik dan Protestan, juga Ortodok. Misalnya pada 1527 di Paris terjadi peristiwa yang disebut The St Bartholomeus Day’s Massacre. Pada suatu malam di tahun itu, sebanyak 10.000 jiwa orang Protestan dibantai oleh orang Katolik. Peristiwa mengerikan semacam inlah yang lalu mengilhami revisi teologi Katolik dalam Konsili Vatikan II (1962-1965). Semula diyakini: extra ecclesiam nulla salus (outside the church no salvation); tak ada keselamatan di luar Gereja. Lalu keyakinan itu diubah, bahwa kebenaran dan keselamatan itu bisa saja ada di luar Gereja (di luar agama Katolik/Protestan). Jadi, paham pluralisme agama ini tidak memiliki akar dalam sejarah dan tradisi Islam, tetapi diimpor dari kaum Kristen di Eropa dan AS.

 

Ketiga, andaikata hasil Konsili Vatikan II diamalkan secara konsisten, tentunya Gereja harus menganggap agama Islam benar. Faktanya, Gereja tidak konsisten. Gereja terus saja melakukan kristenisasi yang menurut mereka guna menyelamatkan domba-domba yang sesat (baca: umat Islam) yang belum pernah mendengar kabar gembira dari Tuhan Yesus. Kalau Islam benar, mengapa kritenisasi di Dunia Islam terus saja berlangsung? Lagipula, pada 28 Januari 2000, Paus Yohanes Paulus II pernah membuat pernyataan, “The Revelation of Jesus Christ is definitive and complete.” (Ajaran Jesus Kristus sudah tetap dan komplit). Paus juga menyatakan, bahwa agama-agama selain Katolik memiliki kekurangan. Hanya Gereja Katolik yang merupakan jalan keselamatan yang sempurna menuju Tuhan. Pada tahun 2000 itu pula Paus Yohannes Paulus II mengeluarkan dekrit ‘Dominus Jesus’ yang secara tegas menolak paham pluralisme agama. (Adian Husaini, Hidayatullah.com, 7/5/2007).

 

Keempat, secara politis pluralisme agama dilancarkan di tengah dominasi Kapitalisme yang Kristen atas Dunia Islam. Karena itu, arah pluralisme patut dicurigai. Andai tujuan pluralisme adalah demi menjunjung tinggi HAM, mencegah konflik dan kekerasan, menguatkan perdamaian dunia dll maka perlu disadari:

 

1.                Menurut Amnesti Internasional, AS adalah pelanggar HAM terbesar di dunia. Sejak Maret 2003 ketika AS menginvasi Irak, sudah 100.000 jiwa umat Islam yang dibunuh oleh AS. Jadi, mengapa umat Islam dan bukan AS yang menjadi sasaran penyebaran paham pluralisme?

 

2.                Konflik dan kekerasan juga sering terjadi karena faktor politik, bukan karena motif agama. Lagi-lagi, AS-lah yang banyak menyulut konflik di berbagai negara. Di Irak, misalnya, AS sengaja menyulut konflik Sunni-Syiah dalam rangka melemahkan posisi umat Islam di sana. Tujuannya jelas: untuk memecah-belah Irak agar mudah dikuasai. Demikian juga di Pakistan. Konflik di Pakistan yang menewaskan puluhan orang baru-baru ini bukanlah konflik agama atau antara penganut Islam ’garis keras’ dan Islam ’moderat’, namun lebih mencerminkan konflik kepentingan antara AS dan Inggris di wilayah itu. Konflik itu tercermin dari perseteruan Musharraf (yang merupakan kaki tangan AS) dan Benazir Bhuto (yang menjadi kaki tangan Inggris).

 

Khatimah

 

Tujuan akhir dari konsep pluralisme agama sangat mudah dibaca, yaitu untuk menghancurkan akidah umat Islam. Pasalnya, Barat sangat memahami bahwa akidah Islam adalah kunci vitalitas sekaligus ruh kebangkitan umat Islam. Kalau akidah umat Islam tidak segera dihancurkan, mereka akan bisa berpotensi menjadi ancaman serius untuk menantang hegemoni Barat pada masa datang. Itulah mengapa, Baratlah, terutama AS, begitu royal membiayai LSM-LSM untuk berbagai proyek pluralisme di Dunia Islam, termasuk di Indonesia.

 

Namun demikian, kita tentu meyakini firman Allah SWT berikut:

 

Orang-orang kafir itu membuat makar. Allah pun membalas makar mereka itu. Allah adalah sebaik-baiknya Pembuat makar. (QS Ali Imran [3]: 54). []

 

Wallâhu a‘lam bi ash-shawâb. []

 

25 Tanggapan ke "MEWASPADAI AGENDA DI BALIK ISU PLURALISME"

Berkaca dari nurani sampai tersadar dalam cermin, apakah diri sendiri sudah benar ?

Lha, pluralisme itu ‘kan yang menjaga minoritas supaya tetap bernapas? 8O

Pluralisme Yang bagaimana dulu.

Baidewei, sir. Nampaknya kritik eksternal *uhuk-uhuk* ini agak salah sasaran deh.

Mungkin yang Anda maksud adalah indiferentisme, bukan pluralisme. Istilah pluralisme di sini tidak bisa begitu saja disamakan dengan indiferentisme, yaitu faham
yang menganggap bahwa semua agama itu sama. Prinsip pluralisme justru berasumsi bahwa setiap dan semua agama, bahkan semua pendekatan spiritual dan penghayatan individu terhadap agama, memiliki keunikannya tersendiri yang harus dihargai. ;)

Baidewei, sir. Nampaknya kritik eksternal *uhuk-uhuk* ini agak salah sasaran deh.

Mungkin yang Anda maksud adalah indiferentisme, bukan pluralisme. Istilah pluralisme di sini tidak bisa begitu saja disamakan dengan indiferentisme, yaitu faham yang menganggap bahwa semua agama itu sama. Prinsip pluralisme justru berasumsi bahwa setiap dan semua agama, bahkan semua pendekatan spiritual dan penghayatan individu terhadap agama, memiliki keunikannya tersendiri yang harus dihargai. ;)

“Pluralisme” kalau dalam artian mengakui semua agama sama itu kayaknya terminologi tepatnya bukan “pluralisme”, deh. Soalnya ambigu. Istilah yang lebih baik AFAIK “indiferentisme” atau “omnitheisme”.

Hati-hati menulis; soalnya rancu, mas. Kalau mas nulis kayak gini, bisa disalahpahami. Mas bisa disangka menentang toleransi beragama (definisi “pluralisme” yang lebih umum). :?

Jadi, kalau pluralisme yang pertama, tetap setuju, bukan? :P

Soal yang kedua, kayaknya perlu baca-baca lagi. Terlalu berbau teori konspiratif khas fundies. ;)

Ya itu tergantung keyakinan masing2, Beda Agama tentunya beda Aturan dan sayapun tidak akan memaksakan kehendak kepada anda untuk setuju atau tidak.
Masalah penghargaan dan Toleransi antar umat beragampun telah diatur sedemikian rupa tidak serta merta menganggap semua agama adalah sama, pendapat saya adalah sangat berbeda.

Ah, kalian ini salah semua. Saya yang benar. Agama itu sama-sama salah kok. Buktinya ya kekerasan atas nama agama. Lah kalo agamanya benar seharusnya umatnya juga benar. :P

Penilaian seorang atau sekelompok umat tidak bisa dijadikan Acuan bahwa Agama itu tercela, Apakah Anda akan menilai kalo orang indonesia itu malas2 ketika melihat ada orang indonesia malas, padahal sejatinya Orang Indonesia yang rajin juga masih banyak.
Berhati2lah dalam berkata bijaksanalah, MulutmuHarimaumu. :)

Penilaian seorang atau sekelompok umat tidak bisa dijadikan Acuan bahwa Agama itu tercela, Apakah Anda akan menilai kalo orang indonesia itu malas2 ketika melihat ada orang indonesia malas, padahal sejatinya Orang Indonesia yang rajin juga masih banyak.

Saya setujuuuu~
Begitu pula dengan warga AS, warga Eropa. Hanya karena sebagian seperti itu, ndak bisa dijadikan acuan kalau AS itu tercela. :D

Tujuan akhir dari konsep pluralisme agama sangat mudah dibaca, yaitu untuk menghancurkan akidah umat Islam. Pasalnya, Barat sangat memahami bahwa akidah Islam adalah kunci vitalitas sekaligus ruh kebangkitan umat Islam. Kalau akidah umat Islam tidak segera dihancurkan, mereka akan bisa berpotensi menjadi ancaman serius untuk menantang hegemoni Barat pada masa datang. Itulah mengapa, Baratlah, terutama AS, begitu royal membiayai LSM-LSM untuk berbagai proyek pluralisme di Dunia Islam, termasuk di Indonesia.

Lah, ini namanya bukan menuduh berdasarkan kelakuan perorangan? Atau anda dah survei seluruh orang barat dan AS ? :lol:

@ mas dana
Kalau menuduh musuh berdasarkan kelakuan perorangkan, barangkali diperbolehkan. :roll:

Rozenesia : Iya Sebagian Besar Bukan..nyatanya Amerika menindas Negara2 dah berlangsung cukup lama dan mereka Happy2 aja tuh rakyatnya…Gak perlu disurvei juga udah kelihatan dengan jelas.

udah kelihatan dengan jelas.

Boleh tahu dari mana anda mendapat sentimen ini? Pernah survey atau bagaimana, begitu? Kalau iya, seberapa besar lingkup surveynya? Ada link-nya? Kalau ada, dilakukan siapa? Organisasi muslimkah, atau lebih luas lagi? Ada berapa versi?

Saya nggak membela AS, saya cuma berusaha supaya nggak berat sebelah. :)

Invasi ke Timur-Tengah siapa Dalangnya, Menuduh Irak Punya senjata pemusnah massal siapa pula tu dan ternyata tidak terbukti menuduh Iran melakukan penelitian Nuklir dan Ternyata tidak terbukti juga.

Lha, anda sendiri yang bilang,

Apakah Anda akan menilai kalo orang indonesia itu malas2 ketika melihat ada orang indonesia malas, padahal sejatinya Orang Indonesia yang rajin juga masih banyak.Berhati2lah dalam berkata bijaksanalah, MulutmuHarimaumu.

Kenapa malah anda menilai kalau orang AS itu bejat-bejat ketika melihat ada orang AS bejat, padahal sejatinya orang AS yang baik juga masih banyak?

“Berhatilah dalam berkata, bijaksanalah, mulutmu harimaumu?” :roll:

“” Kenapa malah anda menilai kalau orang AS itu bejat-bejat ketika melihat ada orang AS bejat, padahal sejatinya orang AS yang baik juga masih banyak? “”
Point mana yang ada kata2nya bahwa Amerika Bejat???Bingung dech.

” Berhatilah dalam membaca”Matamu Harimaumu” hehehe

Jangan pura-pura mengaburkan makna kalimat, jelas-jelas anda melakukan generalisasi. :|

Yang fair, mas. Tidak bisa cuci tangan begitu saja dari pernyataan yang berbau hate speech. :|

:) , terserah anda menanggapinya kalo anda pintar pasti anda akan mencerna bahwa segala kebijkan itu pasti yang mengeluarkan adalah pemerintahnya jadi mungkin yang saya maksud Amerika ya sudah Pasti pemerintahnya atau Oknum2 yang terkait.

Sekali lagi, tidak bisa cuci tangan semudah itu. :)

Pertama, dengan berasumsi bahwa obyek yang anda sebutkan itu adalah pemerintahan, tetap saja anda menggeneralisasi “pemerintahan dan oknum-oknum terkait” tersebut, bukan? Saya rasa prinsip pasifis “hate the sin, not the sinner” sangat tepat di sini. Atau malah sehabis ini hendak menghindar dengan mempersempit spektrum ke “kebijakan politik”? :lol:

Kedua, terlepas dari apa yang anda maksud, tulisan anda terlalu provokatif. Lihat sendiri dari komentar-komentar yang masuk, banyak yang menganggap anda menggeneralisasi Amerika Serikat secara keseluruhan. Apa anda akan membiarkannya saja karena “mereka tidak sepintar anda”? Yang saya minta hanyalah penggunaan political correctness sedikit.

Apa salahnya struktur katanya diubah sedikit, demi meminimalisir salah paham yang mungkin akan timbul? Kenapa terlalu arogan dan terkesan tidak terima diberi kritikan?

Pertama, dengan berasumsi bahwa obyek yang anda sebutkan itu adalah pemerintahan, tetap saja anda menggeneralisasi “pemerintahan dan oknum-oknum terkait” tersebut, bukan? Saya rasa prinsip pasifis “hate the sin, not the sinner” sangat tepat di sini. Atau malah sehabis ini hendak menghindar dengan mempersempit spektrum ke “kebijakan politik”? :lol:
ITUKAN PENDAPAT ANDA SAYA TIDAK MEMPERMASALAHKAN DAN TIDAK AKAN MEMAKSAKAN TERSERAH ENTE MAU MENERJEMAHIN YANG BAGAIMANA.
Kedua, terlepas dari apa yang anda maksud, tulisan anda terlalu provokatif. Lihat sendiri dari komentar-komentar yang masuk, banyak yang menganggap anda menggeneralisasi Amerika Serikat secara keseluruhan. Apa anda akan membiarkannya saja karena “mereka tidak sepintar anda”? Yang saya minta hanyalah penggunaan political correctness sedikit.
SAUDARAKU, DISINI HANYA KITA BERDUA YANG BERDEBAT BUKAN ?JADI KOMENTAR2 YANG MASUK KAN ENTE SENDIRI YA KAN…
Apa salahnya struktur katanya diubah sedikit, demi meminimalisir salah paham yang mungkin akan timbul? Kenapa terlalu arogan dan terkesan tidak terima diberi kritikan?
AROGAN?SIAPA DULU YANG MENILAI KALO BERPIJAK KEPADA KEBENARAN ISLAM(BUKAN DI LUAR ISLAM) TENTUNYA SUATU HAL TIDAK TERLALU DIPERMASALHKAN,KRITIKAN’MONGGO’ WELCOME SAYA SUKA ITU ASAL KRITIKAN BUKAN PENGHINAAN DAN PELECEHAN.

Kayaknya ada yang seru nih. *gelar tiker sambil minum teh botol*

Toleransi beragama sudah digaungkan lama di negeri ini, namun kenyataannya sampai hari ini masih kita lihat konflik yang bersumber dari permasalahan agama. Ini karena kata “toleransi” ternyata masih menyisakan ego kebenaran sendiri, “silahkan anda menjalankan agama anda, saya toleran, tetapi hanya saya yg masuk surga karena agama saya yg benar, dan anda pasti masuk neraka karena agama anda salah, tapi saya toleran kok, asal jangan ganggu saya aja nanti darahmu saya halalkan, silahkan.. saya toleran kok!”
Beginilah kalau hubungan antar umat beragama hanya sebatas toleransi. Yang dibutuhkan saat ini adalah APRESIASI, bukan toleransi. Berarti semua kita yang saling berbeda agama ini harus membuka diri untuk mau mempelajari, menggali, memahami agama lain, agar dapat menemukan titik temu, intisari, hakikat yang sama yg mendasari semua agama. Bukan mempelajari utk menemukan kesalahan2, atau pertentangan2 supaya dapat menyerang kebenaran agama lain, tapi mencoba mencari benang merah KESATUAN dari perbedaan yg ada.
Perbedaan itu mungkin hanya dipermukaannya saja, pada kulitnya saja, di kedalamannya boleh jadi ditemukan KEBENARAN yg sama.
Inilah saya kira PLURALISME itu. Persis seperti semboyan negara kita: BHINNEKA TUNGGAL IKA.

Pinter ning keblinger.

Bener jarene dewe.

Ora gelem grungoake liane.

Ngono iku napsune dhisik imane ucul.

………………………………………………

Berkata tanpa ilmu itulah yang terjadi sekarang…

Tinggalkan Balasan

Belanja yuk…

toko islam dan herbal
Ngobrol dgn sales www.tokoislam.info :
YM_ID : marketingtokoislam

Info Kajian

Jadwal Kajian Salaf

Baner Compilation

Pasang radiobox ini di blog anda!

Keluarkan radiobox (pop up)



<a href="http://www.blogtoplist.com/personal/" title="Personal

Google PR™ - Post your Page Rank with MyGooglePageRank.com My Google PR

Indonesia Top Blog

KampungBlog.com -
 Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Recent Readers

View My Profile View My Profile View My Profile View My Profile View My Profile

Aku untuk Negeriku, Bugiakso Blog Competition 2009

Kalender

Januari 2008
S S R K J S M
« Des   Feb »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Arsip Tersimpan

Statistik Blog

  • 913,116 hits

Kategori

Indonesia Web


Toolbar Penghasil $$$ Download free

Free Webhosting

Free Web Hosting