Sekedar-Tulisan

Kontroversi Antara Suharto Dan Sukarno

Posted by: abuubaidah on: Februari 1, 2008

Dipetik dari eramuslim.com
Agak sedikit berbeda kasus Bung Karno dengan Pak Harto dalam masalah akhir hayat masing-masing. Dan ini adalah fenomena yang cukup menarik untuk diamati.

Meski pernah menjadi idola bangsa ini dengan kekuatan kharisma di dirinya, namun kematian Bung Karno boleh dibilang sangat sederhana. Berbeda dengan kematian Soeharto, yang tanpa diduga, terasa lebih mengesankan. Dan kami kira bukan dibuat-buat, karena nampaknya pers terutama siaran langsung di TV spontan ikut membawakan perasaan haru. Dan itu dirasakan oleh berjuta pemirsa TV di negeri ini sejak Ahad hingga Senin, akhir Januari tahun 2008 ini.

Koran nasional juga rela menghabis halaman-halamannya untuk peristiwa pemakaman jenazah Pak Harto.

Tentu ada beberapa analisa menarik yang mungkin bisa menjadi faktor, meski belum tentu semua pihak sepakat.

Musuh Yang Memaafkan

Bung Karno, sebagaimana para tokoh politik lainnya, pasti pernah punya kawan dan lawan. Demikian juga dengan Pak Harto. Dalam hal ini, umat Islam pernah jadi musuh keduanya, atau mungkin lebih tepatnya, pernah dimusuhi oleh keduanya.

Kelemahan Bung Karno

‘Dosa’ Bung Karno kepada umat Islam -kalau boleh disebut demikian- adalah mendukung komunisme. Sebuah ideologi yang jelas-jelas bertentangan dengan agama Islam, dus otomatis bertentangan dengan ideologi bangsanya sendiri.

Padahal komunis terbukti telah merenggut 42 juta nyawa manusia, sejak revolusi Bolsevic hingga masa kekuasaan Stalin di Sovyet. Ideologi sosialis yang bertentangan dengan fitrah manusia itu justu diajarkan oleh presiden pertama RI itu.

Ditambah lagi, di akhir masa kekuasaannya, Bung Karno yang awalnya amat menarik, simpatik dan berwibawa, telah berubah menjadi diktator dan sewenang-wenang. Harga-harga menjadi melambung tinggi, rakyat hidup dengan sangat kesusahan, tidak bisa lagi termakan dengan pidato berapi-api seperti masa sebelumnya.

Meski dirinya bersih dari tuduhan korupsi, namun kegagalan di bidang ekonomi ini turut mempercepat runtuhnya kekusaan Bung Karno.

Pak Harto dan Umat Islam

Selama 32 tahun Pak Harto menjadi orang nomor satu di negeri ini, boleh kita bagi menjadi dua fase. Fase pertama, sejak awal masa kepemimpinan hingga akhir tahun 80-an. Fase kedua, sejak akhir tahun 80-an hingga lengser di tahun 1998.

Fase Pertama: Represif terhadap Islam

Ciri khas hubungan Pak Harto dengan umat Islam di Fase awal memang agak kurang baik. Isu DI/TII dan NII sangat mencuat, demikian juga dengan PRRI Permesta, di mana begitu banyak ulama dan tokoh Islam ditangkapi. Pengajian-pengajian disusupi intel, masjid-masjid diawasi. Puncaknya terjadi pada pembantaian di Tanjung Priok tahun 1984 yang menelan ratusan nyawa yang hingga kini masih menjadi misteri.

Pak Harto juga telah melakukan depolitisasi umat Islam dengan memberangus kekuatan beberapa partai Islam menjadi satu partai saja yang tidak pernah menang dan selalu mengamini kehendak politiknya. Kemudian semua partai politik diwajibkan berasas tunggal Pancasila, bahkan termasuk semua ormas, yayasan dan semua organisasi harus berasas tunggal.

PAk Harto juga punya dosa politik terhadap lawan-lawannya yang tergabung dalam Petisi 50. AM Fatwa adalah salah satu lawan politik yang pernah merasakan hotel prodeo di masa kerenggangan Pak Harto dengan umat Islam.

Selain itu, orang-orang di lingkar terdalam Pak Harto adalah orang-orang Kristen. Benny Moerdani, Sudomo (sebelum masuk Islam), Panggabean dan seterusnya, adalah nama-nama tokoh pejabat dengan kekuatan salib yang secara intens membangun akses ke pusat kekuasaan.

Dalam catatan sejarah ulama, pernah Pak Harto ‘memecat’ Buya Hamka yang saat itu menjadi Ketua Majelis Ulama Indonesia. Pasalnya, MUI mengeluarkan fatwa haramnya natal bersama. Buya Hamka lebih memilih mundur dari jabatan ketua MUI dari pada menghalalkan natal bersama yang merusak aqidah.

Pak Harto sendiri banyak disebut-sebut saat itu sebagai penganut paham kejawen. Setidaknya di TVRI muncul acara mimbar agama dan kepercayaan, sesuatu yang menghina dan melecehkan aqidah umat Islam.

Untuk menguatkan kekuasaannya, Pak Harto menggunakan Pancasila sebagai benteng pertahanan. Maka dibuatlah BP7 dan program penataran P4 di semua lini, mulia anak sekolah, pegawai negeri dan yang lainnya, harus ikut penataran P4. Bahkan Pak Harto juga membuat 36 butir Pancasila, yang tidak pernah dibuat sebelumnya. Intinya, semua dikemas untuk mempertahankan kekuasaan rezimnya.

Dan yang paling menjadi masalah bahkan sampai akhir hidup Pak Harto adalah tuduhan KKNpada diri dan keluarganya, sesuatu yang hanya dituduhkan tapi entah bagaimana justru tidak pernah diproses secara hukum. Konon ada yang bilang, kalau dibongkar korupsinya, yang akan ikut terbukti korupsinya adalah orang-orang yang menjabat di pemerintahan setelah pemerintahan Pak Harto. Entah mana yang benar.

Fase Kedua Kekuasaan Pak Harto: Kemesraan dengan Umat Islam

Fase kedua dari masa kekuasaan Pak Harto sungguh menarik untuk diamati. Karena keadaan jadi berbalik 180 derajat. Konon, ada semacam kudeta dari kalangan Kristen yang ada di lingkar terdalam di tahun 1988. Akhirnya Leonardus Benny Moerdani dipecat. Dan itu menandakan berakhirnya kemesraan Pak Harto dengan kalangan Kristen dan semakin dekat hubungannya dengan umat Islam.

Tidak diduga-duga sebelumnya, tiba-tiba tahun 1991 Pak Harto pergi haji ke baitullah. Isterinya, Tien, juga diajak juga, padahal selama ini orang banyak bertanya, apa agama beliau. Tapi dengan pergi haji bahkan sempat masuk ke dalam ka’bah, jelaslah sudah keberpihakan keduanya kepada umat Islam. Bahkan namanya pun mendapat tambahan menjadi Haji ‘Muhammad’ Soeharto.

Di tahun yang sama Pak Harto juga membuat gebrakan yang cukup mengejutkan dengan berdirinya sebuah bank syariah pertama, Bank Muamalat. Sebelum boleh dibilang mustahil ada sebuah institusi keuangan yang berasaskan syariah.

Pak Harto kemudian mendekati kalangan ilmuwan muslim dan mendirikan Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI). Meski awalnya ada pihak yang curiga, tapi ternyata ormas ini justru dijejali oleh para cendekiawan muslim dan menjadi anak tangga menuju istana dan jabatan politis lainnya mewakili kalangan muslim. Dan Habibie adalah ketua umumnya yang banyak berperan dalam proses semakin mesranya Pak Harto dengan Umat Islam.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah Indonesia, sebuah perhelatan akbar pun digelar di Masjid Istiqlal berjudul Festival Istiqlal. Tentu ini menambah simpati umat Islam kepada sosok keIslaman Pak Harto.

Tidak berhenti di situ saja, dengan menggunakan nama isterinya, Tien, Pak Harto juga mendirikan masjid megah untuk ukuran zaman itu di depan Taman Mini Indonesia Indah (TMII), yaitu masjid At-Tin yang hingga kini operasionalnya masih didanai dari Cendana.

Saat itu, umat Islam di Bosnia sedang mengalami cleansing etnic. Bersama dengan simpati ratusan juta umat Islam di Indonesia, Pak Harta terbang ke Bosnia menyampaikan simpati dan dukungan serta membangun sebuah masjid dengan nama dirinya di sana.

Padahal Pak Harto sudah di peringatkan oleh Sekjen PBB waktu itu untuk tidak berkunjung ke sana, karena situasinya di Bosniasangat berbahaya, sekjen PBB juga menyatakan tidak bertanggung-jawab jika terjadi sesuatuyangtidak di inginkan terhadap Pak Hato tetapi Pak harto tidak peduli.

Bahkan menurut sebuah sumber, Pak Harto berkatakepada ajudan danpengawal, termasuk Pak SBY yang waktu itu masih pengawal atau menjadi tameng hidup Pak Harto saat di Bosnia, “Aku ingin mati di sana (Bosnia ).”

Ini boleh dibilang fenomenal, karena pemimin negeri Arab sekalipun, tidak ada yang melakukannya.

Yayasan Amal Bhakti Muslim Pancasila juga aktif mendirikan masjid di berbagai pelosok Indonesia, meski harus memotong gaji pegawai negeri.

Jadi boleh disimpulkan bahwa Pak Harto nyaris tidak punya musuh dari kalangan muslim, kecuali beberapa gelintir saja. Bahkan seorang AM Fatwa yang pernah disiksa di masa lalu, secara legowo memaafkan dan menghormati seorang Pak Harto.

Siapa Musuh Ideologis Pak Harto?

Kalau pun Pak Harto punya musuh secara ideologis, barangkali para aktifits PKI dan organisasi yang menudukung ideologinya. Sebab memang Pak Harto lah yang menghabisi PKI di negeri ini. Bahkan sampai anak cucu dan keturunannya.

Selain itu yang termasuk pernah dilibas oleh PAk Harto adalahkalangan Kristen yang dulu sempat secara intens membangun akses ke pusat kekuasaan, lalu kemudian ditinggalkan.

Dan ditambah lagi adalah kekuatan asing, dalam hal ini Amerika Serikat, yang punya loby yahudi yang kuat. Sebab jelas sekali ketika Pak Harto mulai mesra dengan umat Islam, pihak CIA dan USA termasuk yang sangat menentang. Apalagi kemudian Habibie yang dikenal dekat dengan Islam menjadi wakil presiden.

Amien Rais sendiri yang mengatakan dalam kesempatan orasi di halaman masjid Agung Al-Azhar beberapa hari setelah lengsernya Pak Harto, bahwa turunnya penguasa rezim Orde Baru ini sangat ditentukan oleh sambungan telepon dari Gedung Putih. Saat itu, menurut Amien, Menlu USA Madeline Albright’s mewakili pemerintahnyameminta Pak Harto lengser, “Mr Soeharto, please resign, please step down.”

Pak Harto: Presiden Terbaik?

Hari ini di Republika ada tulisan bahwa ada sebuah survey digelar untuk membandingkan prestasi kerja orang-orang yang pernah menjabat sebagai orang nomor satu di Indonesia. Ternyata penelitian itu menyebutkan bahwa Pak Harto nomor satu (37, 4%), sedangkannomor dua baru Bung Karno (28, 4%), yang lain tempatnya di bawah mereka berdua.

Seorang ibu yang ikut melambaikan tangan mengiringi jenazah Pak Harto, diwawancarai sebuah stasiun TV tentang mengapa dia melakukan itu. Jawabnya spontan dan mengejutkan, “Di masa Pak Harto harga-harga murah, tidak ada antrian minyak tanah, pokoknya rakyat makmur.”

Dua hal di atas tentu tidak bisa dijadilan legitimasi bahwa memang benar Pak Harto adalah yang terbaik jika dibandingkan dengan semua presiden yang ada.

Tapi bahwa keempat presiden sesudahnya belum seberhasil Pak Harto memakmurkan rakyat, jelas bisa dirasakan sampai sekarang. Mungkin keempat Presiden setelahnya boleh punya sejuta alasan, tapi buat rakyat, yang mereka tahu harga harus murah, rakyat harus makmur sekarang juga.

Itulah barangkali yang membuat sosok Pak Harto malah seolah jadi pahlawan dan orang yang sangat berjasa buat negeri ini. Sebuah perumpamaan pernah disampaikan oleh seorang ustadz tentang kisah pencuri kain kafan mayit.

Dikisahkan penduduk suatu desa geger karena diketahui ada pencuri kain kafan mayit di kuburan desa. Itu terlihat dari masih ada bekas sisa tanah yang digali di sekitar kuburan yang dicuri kain kafannya. Orang-orang di desa itu mengeluarkan sumpah serapah, “Dasar maling, sungguh keterlaluan, masak kain kafan mayit di kuburan masih dicuri juga.”

Besoknya, desa geger lagi, kali ini lebih heboh. Pasalnya, ada lagi pencuri lain yang mencurikain kafan di kuburan, dan lebih nekat. Sudah kain kafannya dicuri, eh mayatnya ditelantarkan begitu saja telanjang bulat di samping kuburannya, tidak dipendam lagi. Maka sumpah serapah muncul lagi dari penduduk desa, kali in bunyinya beda, “Wah, kalau begini caranya, mendingan maling yang kemarin dong.”

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

2 Tanggapan ke "Kontroversi Antara Suharto Dan Sukarno"

Kesempurnaan memang hanya punya Allah semata….

Tinggalkan Balasan

Belanja yuk…

toko islam dan herbal
Ngobrol dgn sales www.tokoislam.info :
YM_ID : marketingtokoislam

Info Kajian

Jadwal Kajian Salaf

Baner Compilation

Pasang radiobox ini di blog anda!

Keluarkan radiobox (pop up)



<a href="http://www.blogtoplist.com/personal/" title="Personal

Google PR™ - Post your Page Rank with MyGooglePageRank.com My Google PR

Indonesia Top Blog

KampungBlog.com -
 Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Recent Readers

View My Profile View My Profile View My Profile View My Profile View My Profile

Aku untuk Negeriku, Bugiakso Blog Competition 2009

Kalender

Februari 2008
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  

Arsip Tersimpan

Statistik Blog

  • 902,548 hits

Kategori

Indonesia Web


Toolbar Penghasil $$$ Download free

Free Webhosting

Free Web Hosting