Posted by: abuubaidah on: Maret 29, 2008
by : Pertaminaracing
Qatar – Andai Doni Tata Pradita memiliki kesempatan yang sama dengan pembalap lainnya di ajang Grand Prix 250 cc, tak tertutup kemungkinan dia akan meraih poin. Pasalnya jika dibandingkan antara motor Yamaha TZ250 dengan Aprilia, Gilera maupun KTM, rata-rata lebih cepat 10-15 km/jam. Mereka mampu menembus kecepatan hingga 275 km/jam. Sedangkan Doni mentok tidak melebihi 260 km/jam.
Tentu saja kondisi yang dialami Doni tak ubahnya dengan Valentino Rossi yang kalah bersaing di trek lurus dengan Casey Stoner pada musim 2007. Di kelas MotoGP, motor Yamaha M1 yang dinaiki Rossi kalah tenaga dengan Ducati Desmosedici GP7.
Lantas apakah Doni dan Tim Yamaha Pertamina Indonesia harus pasrah? Jawabannya tentu saja tidak. Pasalnya seluruh tim segera bergegas menuju ke Jerman demi mempersiapkan setingan motor yang lebih maksimal. Tim Merah Putih bersiap-siap menghadapi balapan kedua yang akan berlangsung di Sirkuit Jerez, Spanyol, 30 Maret nanti.
Doni menegaskan dia tak mau selamanya finish di papan tengah. Sukses finish di Losail, Qatar memotivasi dirinya untuk meraih poin. “Saya ingin mendapat poin dibalapan kedua,” tekadnya.
Dengan tekad yang pantang menyerah, ikon pelumas Pertamina Enduro ini pun sangat realistis menyambut peluangnya. Meski teknologi motor Yamaha TZ250 masih tertinggal, pelumas Pertamina Enduro siap mendukungnya menjadi yang tercepat.
sumber : OfficialWebDonitata
ayo yamaha bikin dong motor yang kencang biar doni lebih cepat dari yang dulu dan cepat juara ayo……..
1 | killbill1
Maret 30, 2008 pada 10:13 am
terlalu jauh dan gak realistis membandingkan kondisi Doni Tata Pradita (DTP) dengan kondisi yang dialami Valentino Rossi (VR).
DTP terlalu dipaksakan ikut di 250cc. Semangat aja belum cukup,tapi kita harus realistis. Beberapa fakta yang saya ketahui (tolong koreksi kalo salah) diantaranya:
1). Tidak pernah ikut secara penuh pada musim kompetisi motoGP,hanya sebagai wildcard di Sepang. Sebelumnya Doni Tata Pradita (DTP) hanya pembalap bebek underbone, kemudian nyobain pake 125cc, lalu 250cc ikut All Japan Championship (AJC).
2). Motor yang tidak kompetitif, pengecualian untuk Yamaha TZ250 atau YZ250 yang pernah menjadi juara dunia balap GP kelas 250 cc yaitu Tetsuya Harada (1993) dan Olivier Jacque (2000)
kalo kondisinya begini, bisa jadi DTP bakalan jadi pole position dari belakang pada setiap seri balapan tahun ini.